Kata Hati Penuh Arti.....

Wuuuuhhhuuuuiiiiiiiiiiiii..............

SELAMAT DATANG
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Januari 2008

HADIST

Tiga Landasan Pokok

Rasulullah SAW bersabda, “Cinta kepada Allah adalah landasan makrifat, iffah (memelihara diri dari meminta-minta) adalah tanda yakin kepada Allah. Adapun pokok keyakinan adalah takwa dan rida kepada takdir Allah”

Tiga Hal Bagian Dari Hal Lainnya

Umar RA berkata, “Bersikap simpatik kepada orang lain adlah bagian dari kecerdasan akal, bertanya dengan cara yang baik adalah bagian dari ilmu dan kepandaian mengatur adalah bagian dari kehidupan”

Empat Penyebab Gelap Terangnya Hati

Abdullah bin Mas’ud RA pernah berkata, empat hal yang menyebabkan gelapnya hati yaitu perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang-orang zalim, melupakan dosa yang pernah dilakukan dan panjang angan-angan. Empat hal yang termasuk penyebab terangnya hati yaitu perut lapar karena tindakan hati-hati, berteman dengan orang saleh, mengingat dosa yang pernah dilakukan dan tidak panjang angan-angan”.

Enam Penyebab Kerusakan Hati

Hasan Basri RA berkata, “Kerusakan hati manusia itu disebabkan oleh enam faktor, yaitu sengaja berbuat dosa dengan harapan dosanya nanti terampuni, memiliki ilmu, tetapi tidak diamalkannya, apabila beramal tidak ikhlas, memakan rezeki Allah, tetapi tidak pernah bersyukur, tidak rida dengan pemberian Allah SWT, sering mengubur orang mati, namun tidak mau mengambil pelajaran dari kematian tersebut”.

Empat Macam Pangkal

Rasulullah SAW bersabda, “Macam-macam pangkal itu ada empat macam, pangkal obat adalah sedikit makan, sebab menjaga diri dari memakan sesuatu yang bisa menimbulkan penyakit lebih baik dari pada obat untuk segala macam penyakit, pangkal adab adalah sedikit bicara, sebab banyak bicara dapat mengurangi adab, pangkal ibadah adalah sedikit berbuat dosa, sebab banyak berbuat dosa akan menghilangkan pahala ibadah, pangkal harapan adalah sabar, ada yang mengatakan, dengan kesabaran engkau akan meraih apa yang engkau cita-citakan. Dengan takwa, besipun akan lunak”

Dua Pencarian

Ali RA berkata, “Barangsiapa mencari ilmu, berarti ia sedang mencari surga, barang siapa mencari kemaksiatan, berarti dia sedang mencari neraka”.



IKHLAS

IKHLAS, MODAL UTAMA MENJALANKAN IBADAH

Seorang muslim bisa dikatakan telah konsisten dalam beribadah, jika ia telah melaksanakan ibadah secara berkelanjutan dimanapun dan dalam keadaan apapun sesuai dengan adab ibadah tersebut. Menjaga konsisten dalam beribadah, bukanlah hal yang mudah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar seseorang muslim bisa konsisten dalam beribadah, yakni :

· Menjaga keikhlasan dalam beribadah, karena ikhlas adalah modal utama dalam beribadah. Seseorang muslim bias menjalankan ibadah dengan ikhlas ketika ia sadar benar bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya setiap saat.

· Hendaknya ibadah dilaksanakan secara berjamaah. Karena ibadah yang dilakukan secara sendiri-sendiri memiliki dampak yang berbeda dengan ibadah secara berjamaah. Dengan cara berjamaah, seorang muslim akan lebih mudah termotivasi kembali untuk bangkit ketika suatu kali ia sedang mengalami penurunan kualitas ibadah.

· Siapkan segala sesuatu yang diperlukan dengan baik sebelum melaksanakan ibadah. Karena dengan persiapan tersebut, seorang muslim akan lebih mudah melaksanakan ibadah dengan khusyuk dan bias tetap konsisten.

· Menghayati dengan benar ibadah yang dilakukan. Pada saat lisan berdzikir, hendaknya hati juga dihadirkan, dalam artian menghayati apa yang diucapkan. Misalnya saat mengerjakan salat, selain lisan yang mengucapkan ayat-ayat suci Al Qur’an, hati juga turut hadir dan khusyuk dalam salat.

· Laksanakan ibadah tepat waktu.

· Senantiasa berusaha meningkatkan kualitas iman, karena kualitas iman seorang muslim akan sangat berpengaruh terhadap komitmennya terhadap nilai-nilai Islam.

Karena suatu kali, seorang muslim sedang mengalami penurunan dalam ibadah, maka segeralah bangkit dan memaksa diri untuk melaksanakan ibadah yang biasanya dilakukan. Konsistensi dalam beribadah memiliki parameter yang berbeda bagi masing-masing orang. Mereka yang selama ini terbiasa melakukan amalan-amalan sunah, qiyamullail (shalat malam) misalnya, ketika suatu kali ia tidak melaksanakan shalat malam, hal itu berarti membutuhkan perhatian khusus karena hal ini bisa dikategorikan masuk dalam in-konsistensi ibadah.

Semoga dengan keikhlasan dalam beribadah kita bisa istiqomah. Amiiiinnn………